Legenda Werewolf

Minggu, 14 Agustus 2011 | 0 komentar


Kisah binatang jadi-jadian yang banyak terdengar dalam budaya masyarakat kita, ternyata juga terdapat di belahan lain bumi. Bahkan ada seorang tokoh dunia terkenal disebut pula sebagai salah satu pengidapnya. Benarkah makhluk demikian ada, bagaimana pula muasal kelahirannya?
Begitu beragamnya manusia jadi-jadian di bumi ini. Mulai dari manusia harimau atau manusia beruang di kawasan Asia, manusia hyena yang hidup di Afrika, manusia anjing hutan coyote diburu di Amerika Tengah, sedangkan manusia kadal berkeliaran di Selandia baru. Sama halnya dengan mitos babi ngepet atau leak dalam sebagian masyarakat kita, atau orang Barat yang memfiksikannya dalam film semisal An American Werewolf in London (1981) dan Wolf (1994) yang diperani Jack Nicholson.

Ternyata semua binatang jadi-jadian itu memiliki karakter serupa. Misalnya, perubahan di malam hari, menularkan kemampuan berubah bentuk melalui tetesan darah dalam gigitan, luka yang terjadi dalam bentuk binatang juga muncul dalam ujud manusia, atau binatang jadi-jadian yang mati segera kembali berubah jadi manusia.
Akibat kutukan
Herodotus, sejarawan Yunani dari abad V SM, mengatakan pada + 2.400 tahun lalu, bahwa penduduk di daerah yang sekarang bernama Lithuania dan Polandia, mengaku berubah menjadi manusia serigala selama beberapa hari dalam setahun.
Masa itu manusia serigala adalah manusia dengan dorongan kuat memangsa manusia lainnya. Melalui sihir mereka berubah menjadi serigala hitam untuk memudahkan mewujudkan niatnya. Sekali berubah, menurut kepercayaan lama, akan terus menyimpan kekuatan dan kelicikan serigala.
Baru di abad 1 SM Virgil sebagai penulis Latin yang pertama kali menyebut-nyebut soal takhayul ini, kemudian diikuti oleh Propertius, Servius, dan Petronius. Petronius yang kepala urusan hiburan zaman pemerintahan Kaisar Nero (54 – 68) bertutur tentang manusia serigala dalam bentuk sastra roman Satyricon. Dengan bumbu terang bulan, pekuburan, dan luka abadi setelah kembali jadi manusia, membuat roman itu sebagai bacaan hiburan.
Sebagian tradisi Roma dan Yunani menganggap manusia berubah jadi serigala sebagai hukuman dewa, karena ia telah mempersembahkan korban berupa manusia, ujar Pliny (61 – 113).
Meski baru abad XVIII kisah tentang manusia serigala diterbitkan, bukan berarti orang berkurang minat terhadap manusia serigala. Justru kepercayaan itu demikian kuat, bahkan sering diterima sebagai kebenaran, bukan fiksi.
Menurut kepercayaan lama ada tiga macam manusia serigala. Pertama, yang memperolah kemampuan itu melalui keturunan. Konon, kutukan terhadap nenek moyang menjadikan setiap keturunannya menjadi manusia serigala. Kedua, orang yang dengan sukarela jadi serigala dengan alasan dan tujuan jahat. Sedangkan yang terakhir adalah manusia serigala berhati lembut dan baik. Kondisinya yang tidak lazim, malah membuatnya merasa malu.
Sebenarnya, transformasi sering dilakukan oleh dukun-dukun suku tertentu dengan tujuan baik untuk mengatasi masalah di kelompoknya. Saat langka makanan, misalnya, si dukun bisa saja berubah ujud menjadi binatang jadi-jadian serupa makhluk yang akan diburu, supaya lebih mudah melacak buruan itu.
Ada juga yang tidak berubah ujud tetapi meminjam tubuh binatang untuk memata-matai, menyantet, atau sekadar menakut-nakuti musuh.
Berjubah kulit serigala
Kasus manusia serigala yang mencolok terjadi di Prancis, awal abad XVII. Adalah Jean Grenier (13) yang merasa yakin dirinya manusia serigala. Di pengadilan Bordeaux, Grenier mengaku, 2 tahun sebelumnya membuat perjanjian dengan setan di hutan. Dengan kulit serigala yang menurut pengakuannya pemberian setan, tiap malam ia bisa berkeliaran sebagai serigala, namun di siang hari kembali ke bentuk manusia. Ia telah membunuh dan memangsa beberapa anak kecil yang sendirian di ladang, juga menculik bayi yang ditinggal di rumah.
Sejauh menyangkut perilaku kanibalisme, penyelidikan menunjukkan kebenaran pengakuannya. Namun dari sudut kedokteran, remaja ini digolongkan penderita lycanthropy. Kelainan jiwa ini menyebabkannya berkhayal tubuhnya berubah bentuk menjadi hewan. Menilik usianya yang masih belia, Grenier cuma dihukum kurungan seumur hidup di Biara Fransiskan, Bordeaux.
Perubahan Grenier dengan menyamar di bawah kulit serigala serupa dengan cara transformasi manusia beruang di Skandinavia yang menggunakan kulit beruang. Selain kulit binatang, konon ada alat lain, yaitu korset. Ada yang terbuat dari kulit asli binatang, ada yang dari kulit manusia yang dihukum gantung. Dua alat itu banyak dipakai di Prancis, Jerman, Skandinavia, dan beberapa negara Eropa Timur. “Benda sakti” lainnya adalah salep khusus berisi ramuan dari kelompok tanaman solanaceae yang membangkitkan halusinasi.
Selain itu ada lagi alat dan cara untuk bertransformasi yang berupa jimat, ramuan, dan mantera pemujaan pada iblis. Khusus pemakaian jimat, justru orang di sekitar si pemakai yang terpengaruh seakan melihat manusia serigala, padahal si pelaku tidak berubah. Di luar saat bulan purnama, perubahan sering terjadi spontan dan lepas dari kendali pelakunya.
Penampilan si pelaku yang menakutkan, tindak kejahatannya yang mengerikan, dan terutama karena kengerian terhadap kekuatan setan, membuat manusia serigala jadi obyek yang harus diburu dan dimusnahkan. Penghukuman terhadap mereka terjadi di hampir sepanjang sejarah di Eropa. Malah pelaku kejahatan apa pun dengan mudahnya dapat dijuluki manusia serigala.
Pembunuhan massal sering disebut akibat kejahatan serigala. Seperti yang menimpa Peter Stubbe di tahun 1590 (ada yang menyebut Peter Stump di tahun 1589) dari Bedburg, dekat Cologne. Ia dituduh sebagai serigala yang kanibal setidaknya pada 2 pria, 2 wanita hamil, dan 13 kanak-kanak, dan inses dengan adik perempuannya.
Hukuman yang diterimanya luar biasa. Setelah dicabik-cabik dengan penjepit, dilindas roda, dipancung, akhirnya tubuh tanpa kepala itu dibakar. Hukuman bakar hidup-hidup juga diberlakukan untuk gundik dan anak perempuannya.
Di Prancis dan Jerman, manusia serigala biasanya memang dibakar atau digantung. Seperti yang terjadi terhadap lebih dari 200 laki-laki dan perempuan Pirenea (antara Prancis dan Spanyol) di seputar abad XVI, karena diduga manusia serigala.
Menurut Elton B. McNeil dalam The Psychoses (1970), demam berburu manusia serigala bisa disamakan dengan perburuan terhadap penyihir. Secara kejiwaan mereka yakin, orang akan diberkati bila mampu menangkap pelayan atau sekutu iblis.
Tak heran, saat itu di Prancis banyak ditemukan manusia serigala kagetan. Dalam satu periode – antara 1520 – 1630 – di Prancis tercatat 30.000 kasus manusia serigala.
Ada beberapa patokan untuk menentukan apakah seekor serigala jadi-jadian atau tidak. Konon, manusia serigala akan mempertahankan suara dan mata manusianya. Sedangkan menurut suku Indian, yang berubah jadi serigala hanya bagian kepala, tangan, dan kaki.
Dalam ujud manusia, ada beberapa ciri khas yang membedakannya dengan manusia biasa. Dua ujung alisnya saling bertemu di tengah, jari-jari tangannya yang panjang agak kemerahan, dengan jari tengah yang sangat panjang. Selain telinganya agak ke bawah dan sedikit ke belakang, tangan dan kakinya cenderung berbulu lebat.
Rasa takut terhadap manusia serigala lebih mudah dipahami dengan mengetahui alasan takut terhadap serigala. Sebelum abad XX di Eropa dan Asia Utara, serigala dianggap binatang paling cerdik yang berbahaya bagi manusia dan ternak. Apalagi bila serigala itu gila. Cukup sekali gigit korbannya bisa tewas mengerikan. Sampai-sampai ada institusi pemerintah Prancis yang khusus mengontrol serigala, paling tidak sejak pemerintahan Charlemagne (768 – 814), hingga abad ini.
Di Eropa pada abad pertengahan, serigala terkadang digantung bersebelahan dengan pelaku kejahatan di tiang gantungan, sebagai simbol ditaklukkannya kejahatan. Serigala pernah jadi masalah serius Irlandia abad XVII, sehingga sepotong kepala serigala sama nilai hadiahnya dengan kepala pemberontak.
Hanya halusinasi
Ada pendapat, manusia serigala timbul akibat halusinasi. Antara lain, pengaruh racun ergot yang dihasilkan oleh jamur Claviceps purpurea pada gandum. Ergot mengandung bahan serupa materi mentah untuk membuat LSD.
Halusinasi akibat ergot banyak terjadi di Eropa pada abad pertengahan. Itu tak lain karena masyarakat kebanyakan hanya bisa mengkonsumsi biji gandum yang terkontaminasi, sementara gandum bersih disimpan hanya untuk bangsawan. Maka, tanpa pengalaman atau ilmu sihir, bila memakan biji-bijian itu orang bisa merasa jadi katak atau serigala.
Satu kisah tragis terjadi tahun 1951 di Pont St Esprit di Rhone Valley, dengan korban keracunan ergot +300 orang. Lima orang mati, sedangkan kebanyakan cacat seumur hidup. Mereka yang cacat mengaku, telah mengalami halusinasi mengerikan. Ada pria yang merasa seolah-olah otaknya dilahap segerombolan ular merah. Ada pula yang sanggup membebaskan diri dari jaket pengikat orang gila sampai 7x, rontok giginya karena menggigit putus tali pengikat dari kulit yang membelenggunya, dan mampu membengkokkan dua batang teralis besi di jendela rumah sakit! Alasannya, pria itu merasa dikejar-kejar harimau.
Pendapat lain menduga manusia serigala adalah akibat persepsi keliru terhadap penyakit keturunan congenital porphyria. Menurut dr. Lee Illis dari Guy Hospital, London, pengidapnya amat tak tahan terhadap cahaya (karena itu mereka hanya bisa keluar malam hari), giginya berwarna merah atau coklat kemerahan, dan menunjukkan gejala gangguan jiwa (dari histeris ringan hingga depresi maniak). Borok lambat laun mengubah bentuk tangan mereka menjadi serupa cakar.
Namun, pendapat ini disanggah cendekiawan Almotarus, yang menjelaskan manusia serigala dalam bentuk manusia memiliki ciri khusus berupa mata cekung dan kering, serta kulit pucat. Selain itu luka pada kulit penderita jauh berbeda dengan kulit serigala.
Roh jahat dalam perjalanan astral
Pemahaman terhadap manusia serigala memasuki era baru menyusul keputusan terhadap Jean Grenier. Hakim-hakim di masa itu tidak mungkin lagi mengabaikan “koor” pendapat para dokter, yang yakin manusia serigala sebenarnya adalah penderita berbagai jenis dan tingkatan gangguan jiwa. Meski dokter Alfonso Ponce de Santa dari Spanyol masih menyebutnya sebagai gejala kemurungan jiwa akibat cairan tertentu yang dihasilkan empedu, yang diduganya telah menyerang otak.
Maka dibedakan antara makhluk mitos manusia serigala dan penderita kejiwaan (lycanthrope).
Lycanthropy berakar dari kata Yunani lycos artinya serigala dan anthropos atau manusia. Meski ada yang menyebut secara berbeda. Robert Burton dalam buku pengobatan klasik The Anatomy of Melancholy (1621) misalnya, menggunakan istilah kegilaan terhadap serigala.
Mula-mula lycanthrope dipakai untuk menggambarkan fenomena kuno berupa kemampuan orang bermetamorfosis jadi binatang. Namun lama-lama istilah itu diaplikasikan khusus untuk orang yang di alam subnormal yakin mampu berubah bentuk. Keyakinan itu dikuatkan dengan dorongan bersikap sadis dan obsesi terhadap darah dan daging yang terus bertahan dari waktu ke waktu di berbagai tempat – bahkan di negara beradab. Selera terhadap daging manusia itulah yang mengubah manusia menjadi monster. Namun secara nyata penderita lycanthrope tidak pernah berubah bentuk, suara, dan perilaku menjadi serigala.
Mengenai penampilannya yang tetap manusia, pada abad XV – XVI penderita lycanthrope berkilah, bahwa bulu-bulu mereka tumbuh di bawah kulit. Seperti yang terjadi di Padua, Spanyol, tahun 1541, ketika seorang petani dengan keji membunuh dan mengoyak-ngoyak tubuh beberapa orang korbannya. Saat tertangkap, ia mengaku sebagai serigala meski secara fisik tidak berujud binatang. Itu tak lain karena bulu-bulunya tersembunyi di bawah, bukan di atas, kulit. Untuk membuktikan ucapannya, penduduk segera memotong lengan dan kakinya. Alhasil, kecewa yang didapat, yang ada cuma darah, otot, dan tulang biasa.
Malah dalam buku klasik tentang sadisme, masokisme, dan lycanthropy Man into Wolf, antropolog Inggris Dr. Robert Eisler menyebut kemungkinan Adolf Hitler sebagai penderita lycanthropy. Ia merujuk pada kesaksian bagaimana sang Fuhrer memiliki kebiasaan menggigit karpet saat mengamuk.
Sedangkan manusia serigala adalah orang yang dengan kekuatan sihir atau mantera khusus dipercaya mampu mengubah diri menjadi serigala. Ia benar-benar serupa serigala baik keganasan, kekuatan, kelicikan, dan kecepatan larinya. Ia bisa bertahan dalam kondisi itu selama beberapa jam saja atau bahkan permanen.
Pendapat yang menguatkan keberadaan manusia serigala didukung oleh spiritualis Rose Gladden dengan dasar pemikiran perjalanan astral. “Katakanlah ada orang yang pada dasarnya jahat, suka dengan hal-hal yang mengerikan. Saat ia melakukan perjalanan astral, roh jahat yang banyak berkeliaran bebas di udara akan menangkap, mengubahnya menjadi serigala atau binatang lainnya, dan memanfaatkannya untuk tujuan keji.”

Dorongan bebas nilai

Lain lagi pendapat paranormal terkemuka Prancis pada abad XIX Eliphas Levi, bahwa proses transformasi itu adalah suatu manifestasi simpati manusia terhadap naluri kebinatangannya. Menurutnya, manusia serigala tidak lebih dari tubuh nonfisik dan naluri ganas berbentuk serigala.
Senada dengan itu, John Godwin, penulis Unsolved: The World of the Unknown, lebih menyoroti dorongan dalam diri manusia. Jujur saja, sebenarnya manusia memiliki sifat buruk serupa serigala yang selama ini ditekan untuk tidak muncul. “Dengan berubah, mereka bebas dari ujud fisik manusianya yang mengalangi mewujudkan dorongan dan keinginan kuat tanpa perlu merasa bersalah atau takut. Dalam ujud binatang, tidak ada lagi tabu yang harus dijaga. Karena binatang memang tidak mengenal tabu.”
Sedangkan James VI dari Skotlandia dalam Daemonologie (1597), melihat penyebabnya adalah segunung masalah yang dihadapi manusia mulai dari bencana alam dan cuaca buruk, gagal panen, serangan hama, dan kejahatan yang meningkat. Semua itu perlu seseorang atau sesuatu untuk disalahkan. Gampangnya, serigala dijadikan kambing hitam. Selain itu adalah ketidaksiapan penduduk untuk melepaskan kepercayaan atas makhluk sejenis itu membuat manusia serigala terus eksis dalam waktu lama.
Richard Carrington, penulis Mermaids and Mastodon menyamakan alasan di balik kepercayaan akan manusia serigala dengan kepercayaan primitif, bahwa monster sebenarnya bentuk yang diciptakan manusia sendiri, untuk mengkompensasikan posisinya sendiri yang demikian kecil di alam semesta.
Saat peradaban makin maju, mitos binatang menakutkan pun lenyap. Contohnya, suku Indian Sioux di Dakota Utara, AS, yang dulu percaya akan adanya binatang pemangsa manusia. Tapi, keturunannya di abad ini melupakan mitos itu. Menurut mereka, takhayul itu lahir akibat rasa takut terhadap mastodon yang berkeliaran di dataran Dakota.
Pendapat manusia serigala hanya takhayul belum mencapai kata putus. Jika benar itu sekadar ciptaan manusia, mengapa kisah itu bertahan sekian lama? Apa pula yahg membuat ilmuwan demikian getol berkutat memecahkannya?
Sumber: http://misteridunia.wordpress.com/2008/09/25/legenda-werewolf/

My Favorite Drummer

| 0 komentar





Real name: Erik Sandin
Date of birth: July 29th 1966
Aliases:
Chris Telmeth
Erik Ghint
Groggy Nodbeggar
Herb Reath Stinks
Erik Shun
Seymour Butts
Misc:
Went to rehab in the mid 90's and has been completely sober since
Only uses a single kick (as opposed to a double bass kick)
Quit NOFX at one point to attend college, but later rejoined




Erik Sandin (born July 29, 1966), is an American musician and the drummer of the popular California punk band, NOFX. He was a founding member of the band when they formed in Hollywood, California, in 1983, but moved to Santa Barbara two years later, leaving the band.
In just one year without Sandin, the band had already gone through two drummers (Scott Sellers and Scott Aldahl) and in 1986 the band talked Sandin into rejoining NOFX before the White Trash, Two Heebs and a Bean recordings. He has been NOFX's permanent drummer since his return in 1986, and played drums on every NOFX full-length album and EP released, including the 2007 live album They've Actually Gotten Worse Live!. The band Dogpiss featured a song about him called "Erik Sandin's Stand In" on the Fat Wreck Chords compilation album Short Music for Short People.



Erik Sandin
(July 2006 Issue)
In Wolves Clothing

Had it not been for a group of aspiring punk rockers, NOFX's Erik Sandin might not have been featured in the pages of this magazine. ?When I was a kid,? recalls Sandin, ?I knew some older kids from the neighborhood who were into punk rock, and they were like, 'Hey man, we're starting a band. Do you want to play drums?' I was like, 'Okay, sure, sounds good!' Now, it could just as easily have been, 'Do you want to play the harmonica?' I just wanted to play music.?
    Fortunately, Sandin got his chance to play music?and drums. Twenty-three years later, he's an influential drummer on the current punk scene. With his rapid, single-pedal kick drum rhythms and tom runs, Sandin's propulsive patterns have kept NOFX's crowds moving at a furious pace all over the globe for over two decades.
    Sandin says his uptempo pulse was influenced by drummers like Don Bolles of The Germs, Earl Hudson of Bad Brains, and Bomber Manzullo from RKL. ?Bomber started firing the foot really fast and repetitively,? Erik explains, ?and I was like, 'That's awesome.' So I worked on my bass drum technique, getting it really solid and quick. You really need to have that together for this kind of music.?
    With eleven albums under his belt (one of which, 1994's Punk In Drublic, went gold), Sandin has quite a bit of recording experience. But he was still thrilled recently to work with producers Bill Stevenson and Jason Livermore (both of whom happen to be excellent drummers) on NOFX's latest, Wolves In Wolves Clothing.
    Despite his speedy meter, Sandin recorded to a click track for the first time two albums ago. This time around, his approach changed. ?Before I did this recording, I was playing dead on with the click,? Erik says. ?I made it a point to really nail it. But Stevenson and Livermore were like, 'You know what, play to the click. But if you fluctuate a little in front or a little behind the beat, it'll actually give the music a more natural feel.' That loosened me up and made things more fun.?


Bom Pemusnah Masal

| 0 komentar

Setelah era Perang Dunia II yang ditandai dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, duk besar saat itu (Amerika Serikat dan Uni Soviet) terus melakukan eksperimen senjata-senjata nuklir pemusnah massal. Ketegangan-ketegangan di era perang dingin hingga era tahun 80-an dan berakhir dengan runtuhnya Uni Soviet (USSR) saat itu membuat dua blok besar tersebut terus mencoba menciptakan suatu senjata mematikan yang tidak hanya berpotensi sebagai senjata penghancur massal tapi juga pemusnah peradaban manusia.

Inilah tiga bom nuklir terbesar setelah era Perang Dunia II yang pernah diledakkan manusia :

3. Bom Ivy Mike 

Ivy Mike adalah kode yang diberikan pada test bom fusi nuklir pertama Amerika Serikat. Diledakkan pada tnaggal 1 November 1952 di sebuah pulau karang di Lautan Pasifik sebagai bagian dari uji Operasi Ivy. Bom ini merupakan uji penuh pertama desain Teller-Ulam, bom fusi satu stage, dan dianggap sebagai ujicoba bom hidrogen pertama yang berhasil diledakkan.


Bom "Mike" seberat 62 ton yang didesain oleh Richard Garwin, seorang mahasiswa Enrico Fermi, ini secara fisik sesungguhnya lebih mirip seperti bangunan sebuah pabrik daripada sebuah senjata. Di bagian pusatnya terdapat botol labu thermo silinder raksasa atau cryostat, yang menyimpan bahan fusi deuterium–tritium. Bom fisi yang umum (bagian primer) pada bagian akhirnya digunakan untuk menciptakan kondisi yang memicu reaksi fusi.
Primary stage -nya adalah sebuah bom fisi TX-5 pada sebuah ruang terpisah di atas rangkaian bom sesungguhnya. Stage fisi sekundernya menggunakan deuterium–tritium cair. Di bawahnya adalah sebuah sebuah batang plutonium silindris (untuk pengapian/sparkplug), yang digunakan untuk memicu raksi fusi. Melingkupi rangkaian ini adalah sebuah tamperuranium alam seberat 4,5 ton.; interiornya membentuk sebuah terowongan radiasi untuk menuntun X-rays dari bagian primer ke sekunder. Gunanya X-rays di sini adalah untuk meng-compress bagian sekundernya secara hydrodynamically, meningkatkan density dan temperatur deuterium ke level yang mengkondisikan reaksi termonuklir, dan meng-compress sparkpluguntuk memicu kondisi supercriticality. Bagian paling luarnya merupakan casing terbuat dari besi baja setebal 25-30 cm. Seluruh rangkaian yang dijuluki "Sausage" ini berdiamter 2,03 meter dan tinggi 6,2 meter dan beratnya mencapai 54 ton. Sedangkan seluruh "bangunan" bom monster ini mempunyai berat 82 ton dalam bentuk bangunan alumunium yang disebut "shot cab" yang berlokasi di pulau Elugelab, Pasifik, bagian dari pulau karang Enewetak.


Uji ledakan dilakukan pada tanggal 1 November 1952 pukul 07:15 AM dan menghasilkan ledakan dari sebuah bom yang diperkirakan berkekuatan 10,4 - 12 megaton. Bagaimanapun juga 77% pemicu final berasal dari proses fisi cepat dari tamper uranium., yang berarti bom ini menghasilkan sampah radioaktif yang sangat hebat pula.

Bola Apinya selebar 5,2 km, dan awan cendawannya mencapai ketinggian 17 km dalam waktu kurang dari 90 detik. Semenit kemudian mencapai 33 km sebelum stabil di jarak 37 km dengan diameter di puncaknya melebar hingga diameter 161 km. Ledakan ini menciptakan kawah berdiamter 1,9km dan dalam 50 meter serta mengakibatkan terjadinya gelombang setinggi 20 kaki di lautan, juga meninggalkan wilayah sekitar pulau karang yang terkontaminasi berat selama beberapa waktu.

2. Bom Castle Bravo

Castle Bravo adalah code name yang diberikan kepada bom hidrogen termonuklir pertama buatan Amerika Serikat berkekuatan 15 megaton ini. Bom ini diledakkan pada tanggal 1 Maret 1954 di Bikin Atollm Marshal Islands sebagai bagian dari pengujian Operation Castle. Sampah radioaktifnya menjadi uji efek negatif radiasi rahasia yang mencemari populasi di sekitar lokasi pengujian termasuk kru dari kapal Jepang Daigo FukuryĆ« Maru ("Lucky Dragon No. 5") dan menuai kritik keras dunia internasional akibat resiko atmosferik termonuklirnya. Kekuatan ledak bom ini ekuivalen dengan 1200 kali kekuatan ledakan bom atm yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 dalam Perang Dunia II.



Bom ini menggunakan deuteride untuk tahap fusi-nya dan tidak menggunakan cryogenic liquid seperti sebelumnya dalam project Ivy Mike yang menghasilkan bom dengan fisik sebesar bangunan kantor kecil dan sangat tidak praktis digunakan dalam perang. Dengan menggunakan bahan baru ini Castle Bravo merupakan bom fusi pertama buatan Amerika Serikat yang praktis dan deliverable.


Bom ini menggunakan alumunium untuk casing-nya, tidak seperti besi baja yang digunakan Ivy-Mike. Di dalam casing silindernya tertanam silinder yang lebih kecil yang berisikan bahan fusi lithium deuteride (sekunder) dengan sebuah bom atom fisi pada sebuah bagian akhirnya. Bekerja di dalam bagian sekundernya adalah sebuah sebuah batang plutonium silindris (untuk pengapian/sparkplug), yang digunakan untuk memicu raksi fusi. Melingkupi rangkaian ini adalah sebuah tamper uranium alam.; ruang antara tamper dan casing membentuk sebuah terowongan radiasi untuk menuntun X-rays dari bagian primer ke sekunder. Gunanya X-rays di sini adalah untuk meng-compress bagian sekundernya, meningkatkan density dan temperaturdeuterium ke level yang mengkondisikan reaksi termonuklir, dan meng-compress sparkplug untuk memicu kondisi supercriticality.



Bom ini mempunyai berat 10,7 ton dengan panjang 4,6 meter dan lebar 1,4 meter dan ditempatkan di kedudukannya di sebuah pulau buatan di atas karang di lepas pantai Namu Island, Bikini Atoll.


Saat diledakkan, dalam sedetik tercipta bola api dengan diameter seluas 7 km. Bola api ini terlihat di Kwajalein atoll, 450 km dari ground zero. Ledakannya meninggalkan kawah selebar 2km dan dalam 75 meter. Awan cendawan-nya mencapai ketinggian 14 km dan diamter hingga 11km dalm waktu semenit. Dalam waktu kurang dari 10 menit meluas hingga ketinggian 40km dan diameter 100km (meluas 6km permenitnya). Akibatnya wilayah awan seluas 7000 mil di lautan Pasifik terkontaminasi termasuk pulau-pulau kecil seperti Rongerik, Rongelap dan Utirik.




1. Tsar Bomba (Bom Terbesar Dalam Sejarah Umat Manusia)


Pada tanggal 10 Juli 1961 Sekjen Soviet Nikita Khrushchev memulai suatu proyek bom nuklir terbesar yang pernah dibuat manusia. Khrushchev menyetujui proyek ini di saat situasi tegang di era perang dingin, bersamaan dengan mulai dibangunnya tembok Berlin 13 Agustus 1961.
Tsar Bomba adalah sebuah bom hidrogen tiga stage berkekuatan 50 megaton yang daya ledaknya setara dengan 10 kali seluruh bom yang diledakkan pada Perang Dunia II termasuk bom-bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.



Bom hidrogen tiga stage ini, seperti halnya bom-bom hidrogen lainnya, menggunakan bom fisi primer untuk memicu sebuah termonuklir sekunder, dan kemudian menggunakan energi dari ledakan yang dihasilkan untuk memicu termonuklir tambahan yang jauh lebih besar. Fakta menunjukkan bahwa Tsar Bomba memiliki sejumlah stage ketiga-nya dan bukan hanya satu yang sangat besar.



Awalnya bom monster tiga stage ini didesain berkekuatan 100 megaton, tapi resiko sampah radioaktif-nya terlalu besar. Untuk membatasi sampah radiasi, stage ketiga, dan mungkin juga stage kedua, memiliki sebuahtamper dari timah dan bukannya tamper fusi uranium-238 (yang dengan hebat bisa memperbesar reaksi melalui proses fisi atom-atom uranium dengan neutron-neutron cepat dari reaksi fusi). Hal ini
menghilangkan proses fisi cepat dengan neutron-neutron stage fusi-nya, sehingga diperkirakan 97% dari total energi yang dihasilkan berasal dari proses fusi sendirian (berarti pula menjadi bom nuklir paling "bersih" yang pernah dibuat, yang menghasilkan sampah radioaktif paling kecil). Hal ini sangat dihargai karena kebanyakan sampah radioaktif dari suatu test bom nuklir akan mengganggu populasi makhluk hidup.




Komponen-komponen bom ini didesain oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Julii Borisovich Khariton dan beranggotakan Andrei Sakharov, Victor Adamsky, Yuri Babayev, Yuri Smirnov, dan Yuri Trutnev.




Tsar Bomba diterbangkan ke lokasi pengujiannya oleh sebuah Tu-95V yang telah dimodifikasi dan terbang dari Kola peninsula dengan pilot Mayor Andrei Durnovtsev. Pesawat ini ditemani sebuah Tu-16 Observer yang bertugas memonitor kondisi udara dan mendokumentasikan pengujian bom ini. Keduanya dicat dengan cat khusus untuk menimalisir panas.


Bom yang dibawa memiliki berat 27 ton ukurannya denkian besar dengan panjang 8 meter dan diameter 2 meter hingga Tu-95V harus memiliki pintu khusus dan merelakan tanki bahan bakarnya dipindahkan. Tsar bomba di pasangkan pada sebuah parasut seberat 800 kg untuk menghambat laju jatuhnya agar kedua pesawat masih bisa terbang menjauhinya 45 km dariground zero.


Tsar Bomba diledakkan pada tanggal 30 Oktober 1961 pukul 11:32 di atas Mityushikha Bay yang merupakan lokasi pengujian bom (Sukhoy Nos Zone C), sebelah utara Arctic Circle di Novaya Zemlya Island, Laut Arctic. Bom ini dijatuhkan dari ketinggian 10,5 km dan didesain untuk meledak pada ketinggian 4 km di atas permukaan tanah dengan menggunakan sensor barometrik.




Ledakannya sangat spekatakuler. Meski diledakkan di udara, bola apinya hingga mencapai permukaan bumi dan mendekati ketinggian pesawat peluncurnya. Tekanan dahsyat di bawah titik ledaknya mencapai 300PSI, 6 kali tekanan puncak bom atom Hiroshima. Kilauan cahanya sangat terang hingga terlihat pada jarak 1000 km, meskipun langit mendung. Pengamat bahkan masih bisa merasakan efek thermal pulse dari jarak 270 km. Lihat video ledakan Tsar Bomba berikut ini:






Anda bisa melihat bagaimana dalam hanya beberapa dekade kekuatan bom jenis pemusnah masal ini berlipat-lipat. Lihat grafik perbandingan bom-bom pemusnah masal ini dibandingkan dengan bom atom Hiroshima dan Nagasaki:


Sebenarnya masih ada satu lagi bom atom dahsyat yang diledakkan pada era Perang Duina II yaitu Bom Trinity (yang kemudian disusul dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki) tetapi tidak ada apa-apanya bila dibandingkan kekuatan dengan bom-bom atom di atas.

Bom Trinity

Sebenarnya selama era perang dingin uji coba bom-bom pemusnah masal terus dilakukan oleh dua blok besar saat itu (USA dan Uni Soviet) tetapi kekuatannya tidak ada yang lebih besar dari ketiga raja bom di atas. Ada bisa lihat gambar-gambar uji coba nuklir tersebut di bawah ini:




Empat gambar pertama di atas adalah bom hidrogen berkekuatan 2,6 megaton diabadikan di French Polynesia 1968

Selanjutnya di bawah ini adalah gambar-gambar acak dari berbagai uji coba bom nuklir yang mudah-mudahan tidak akan pernah lagi dilakukan oleh siapapun karena sama sekali merupakan ide konyol yang hanya akan menciptakan tidak hanya senjata pemusnah massal tapi juga alat pemusnah peradaban manusia. Naudzubillah...













































Sumber: http://aneh-tapi-nyata.blogspot.com/2009/04/bom-nuklir-terbesar-di-dunia.html
 
© Copyright 2010-2011 GTn Blog's All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.